Jumat, 13 Agustus 2010

Percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria

Yohanes 4:1-42 : (1) Ketika
Tuhan Yesus mengetahui,
bahwa orang-orang Farisi
telah mendengar, bahwa
Ia memperoleh dan
membaptis murid lebih
banyak dari pada Yohanes
(2) -- meskipun Yesus
sendiri tidak membaptis,
melainkan murid-murid-
Nya, -- (3) Iapun
meninggalkan Yudea dan
kembali lagi ke Galilea. (4)
Ia harus melintasi daerah
Samaria. (5) Maka
sampailah Ia ke sebuah
kota di Samaria, yang
bernama Sikhar dekat
tanah yang diberikan
Yakub dahulu kepada
anaknya, Yusuf. (6) Di situ
terdapat sumur Yakub.
Yesus sangat letih oleh
perjalanan, karena itu Ia
duduk di pinggir sumur
itu. Hari kira-kira pukul dua
belas (7) Maka datanglah
seorang perempuan
Samaria hendak menimba
air. Kata Yesus kepadanya:
"Berilah Aku minum." (8)
Sebab murid-murid-Nya
telah pergi ke kota
membeli makanan. (9)
Maka kata perempuan
Samaria itu kepada-Nya:
"Masakan Engkau, seorang
Yahudi, minta minum
kepadaku, seorang
Samaria?" (Sebab orang
Yahudi tidak bergaul
dengan orang Samaria).
(10) Jawab Yesus
kepadanya: "Jikalau engkau
tahu tentang karunia Allah
dan siapakah Dia yang
berkata kepadamu: Berilah
Aku minum! niscaya
engkau telah meminta
kepada-Nya dan Ia telah
memberikan kepadamu
air hidup." (11) Kata
perempuan itu kepada-
Nya: "Tuhan, Engkau tidak
punya timba dan sumur
ini amat dalam; dari
manakah Engkau
memperoleh air hidup itu?
(12) Adakah Engkau lebih
besar dari pada bapa kami
Yakub, yang memberikan
sumur ini kepada kami
dan yang telah minum
sendiri dari dalamnya, ia
serta anak-anaknya dan
ternaknya?" (13) Jawab
Yesus kepadanya:
"Barangsiapa minum air
ini, ia akan haus lagi, (14)
tetapi barangsiapa minum
air yang akan Kuberikan
kepadanya, ia tidak akan
haus untuk selama-
lamanya. Sebaliknya air
yang akan Kuberikan
kepadanya, akan menjadi
mata air di dalam dirinya,
yang terus-menerus
memancar sampai kepada
hidup yang kekal." (15)
Kata perempuan itu
kepada-Nya: "Tuhan,
berikanlah aku air itu,
supaya aku tidak haus dan
tidak usah datang lagi ke
sini untuk menimba
air." (16) Kata Yesus
kepadanya: "Pergilah,
panggillah suamimu dan
datang ke sini. (17) Kata
perempuan itu: "Aku tidak
mempunyai suami." Kata
Yesus kepadanya: "Tepat
katamu, bahwa engkau
tidak mempunyai suami,
(18) sebab engkau sudah
mempunyai lima suami
dan yang ada sekarang
padamu, bukanlah
suamimu. Dalam hal ini
engkau berkata
benar." (19) Kata
perempuan itu kepada-
Nya: "Tuhan, nyata
sekarang padaku, bahwa
Engkau seorang nabi. (20)
Nenek moyang kami
menyembah di atas
gunung ini, tetapi kamu
katakan, bahwa
Yerusalemlah tempat
orang menyembah." (21)
Kata Yesus kepadanya:
"Percayalah kepada-Ku,
hai perempuan, saatnya
akan tiba, bahwa kamu
akan menyembah Bapa
bukan di gunung ini dan
bukan juga di Yerusalem.
(22) Kamu menyembah
apa yang tidak kamu
kenal, kami menyembah
apa yang kami kenal,
sebab keselamatan datang
dari bangsa Yahudi. (23)
Tetapi saatnya akan
datang dan sudah tiba
sekarang, bahwa
penyembah-penyembah
benar akan menyembah
Bapa dalam roh dan
kebenaran; sebab Bapa
menghendaki
penyembah-penyembah
demikian. (24) Allah itu
Roh dan barangsiapa
menyembah Dia, harus
menyembah-Nya dalam
roh dan kebenaran." (25)
Jawab perempuan itu
kepada-Nya: "Aku tahu,
bahwa Mesias akan
datang, yang disebut juga
Kristus; apabila Ia datang,
Ia akan memberitakan
segala sesuatu kepada
kami." (26) Kata Yesus
kepadanya: "Akulah Dia,
yang sedang berkata-kata
dengan engkau." (27) Pada
waktu itu datanglah
murid-murid-Nya dan
mereka heran, bahwa Ia
sedang bercakap-cakap
dengan seorang
perempuan. Tetapi tidak
seorangpun yang berkata:
"Apa yang Engkau
kehendaki? Atau: Apa yang
Engkau percakapkan
dengan dia?" (28) Maka
perempuan itu
meninggalkan
tempayannya di situ lalu
pergi ke kota dan berkata
kepada orang-orang yang
di situ: (29) "Mari, lihat! Di
sana ada seorang yang
mengatakan kepadaku
segala sesuatu yang telah
kuperbuat. Mungkinkah
Dia Kristus itu?" (30) Maka
merekapun pergi ke luar
kota lalu datang kepada
Yesus. (31) Sementara itu
murid-murid-Nya
mengajak Dia, katanya:
"Rabi, makanlah." (32)
Akan tetapi Ia berkata
kepada mereka: "Pada-Ku
ada makanan yang tidak
kamu kenal." (33) Maka
murid-murid itu berkata
seorang kepada yang lain:
"Adakah orang yang telah
membawa sesuatu
kepada-Nya untuk
dimakan?" (34) Kata Yesus
kepada mereka: "Makanan-
Ku ialah melakukan
kehendak Dia yang
mengutus Aku dan
menyelesaikan pekerjaan-
Nya. (35) Bukankah kamu
mengatakan: Empat bulan
lagi tibalah musim
menuai? Tetapi Aku
berkata kepadamu:
Lihatlah sekelilingmu dan
pandanglah ladang-ladang
yang sudah menguning
dan matang untuk dituai.
(36) Sekarang juga penuai
telah menerima upahnya
dan ia mengumpulkan
buah untuk hidup yang
kekal, sehingga penabur
dan penuai sama-sama
bersukacita. (37) Sebab
dalam hal ini benarlah
peribahasa: Yang seorang
menabur dan yang lain
menuai. (38) Aku
mengutus kamu untuk
menuai apa yang tidak
kamu usahakan; orang-
orang lain berusaha dan
kamu datang memetik
hasil usaha mereka." (39)
Dan banyak orang
Samaria dari kota itu telah
menjadi percaya kepada-
Nya karena perkataan
perempuan itu, yang
bersaksi: "Ia mengatakan
kepadaku segala sesuatu
yang telah
kuperbuat." (40) Ketika
orang-orang Samaria itu
sampai kepada Yesus,
mereka meminta kepada-
Nya, supaya Ia tinggal
pada mereka; dan Iapun
tinggal di situ dua hari
lamanya. (41) Dan lebih
banyak lagi orang yang
menjadi percaya karena
perkataan-Nya, (42) dan
mereka berkata kepada
perempuan itu: "Kami
percaya, tetapi bukan lagi
karena apa yang
kaukatakan, sebab kami
sendiri telah mendengar
Dia dan kami tahu, bahwa
Dialah benar-benar
Juruselamat dunia."
Percakapan di pinggir
sumur (Yohanes 4:1-15)
Ucapan-ucapan
pengajaran Yesus, tidak
cukup bila hanya
didengarkan. Ucapan-
ucapan itu begitu
menggelitik bahkan
memancing hati dan
pikiran untuk terlibat lebih
dalam lagi. Percakapan
Yesus dengan perempuan
Samaria penuh dengan
pengajaran-pengajaran
yang luar biasa dalam
maknanya. Pembahasan
bergulir mulus dari soal
air, timba dan sumur ke
sosok Kristus, Sang Air
Hidup. Yesus
menampilkan suatu
metode penginjilan pribadi
yang mengesankan.
Dari air sumur ke Air
hidup. Dapatkah air
sumur, walau setimba
banyaknya, melegakan
dahaga jiwa dari rasa
takut, kuatir, dan tidak
aman? Perempuan
Samaria ini memuaskan
dahaga jiwanya dengan
pengajaran-pengajaran
yang benar dan itu
didapatkannya dari Yesus,
sang "Air hidup" (ayat 13,
14).
Respons yang tepat.
Setiap orang yang belum
mengenal Allah secara
nyata, akan haus dan
berusaha memuaskan
kehausan itu dengan
pelbagai cara. Seperti
perempuan Samaria
"haus" ini meresponi
tawaran Yesus dengan
kerinduan hati yang tepat
(ayat 15), begitu jugalah
seharusnya orang percaya
terhadap pemberitaan
firman Tuhan. Bukalah hati
untuk menerima siraman
"Air Hidup" yang
melegakan.
Doa: Tuhan Yesus, terima
kasih, Engkaulah Air Hidup
kami sejati.
Yesus mengangkat harkat
perempuan (Yohanes
4:1-14)
Dalam berbagai
masyarakat, kaum
perempuan sering tidak
mendapatkan perhatian
atau perlakuan yang baik.
Tidak jarang mereka
direndahkan bahkan
dilecehkan. Mereka kerap
kali tidak diperlakukan
sebagai manusia,
melainkan dianggap
sebagai benda yang tidak
memiliki hak dan
martabat. Bagaimana
perlakuan Tuhan Yesus
terhadap perempuan?
Pada narasi sebelumnya
rasul Yohanes
memperhatikan secara
khusus kaum laki-laki.
Namun, ia tidak
mengabaikan kaum
perempuan. Sekarang
secara khusus Yohanes
menceritakan tentang
seorang perempuan.
Siapakah dia? Mari kita
berkenalan dengannya.
Tidak diberitahu kepada
kita siapa namanya.
Daerah asalnya kelihatan
lebih penting ketimbang
nama pribadinya. Ia
adalah seorang
perempuan dari Samaria
(ayat 7,9). Kombinasi
perempuan dengan
Samaria merupakan dua
hal yang paling tidak
disukai orang Yahudi (ayat
9). Masyarakat di mana ia
tinggal juga terlihat tidak
menyukainya. Biasanya
kaum perempuan
mengambil air pada pagi
hari atau sore hari secara
bersama-sama.
Perempuan ini mengambil
air sendirian untuk
menghindari orang lain
(ayat 6). Mengapa?
Kehidupan moralnya, tidak
seperti Nikodemus,
rendah sekali. Ia sekarang
hidup bersama dengan
seorang laki-laki tanpa
nikah (ayat 18). Sebagai
perempuan yang berasal
dari Samaria ia tidak
disukai orang Yahudi.
Sebagai perempuan
dengan moral yang
rendah ia tidak disukai
masyarakatnya sendiri.
Jika demikian siapa yang
menerimanya? Tuhan
Yesus!
Tuhan Yesus dengan
sengaja melintasi daerah
Samaria untuk menemui
perempuan yang
sesungguhnya
membutuhkan air hidup
lebih dari air untuk
kelangsungan hidup
jasmaninya (ayat 4,7).
Tuhan Yesus mengambil
inisiatif membuka
pembicaraan (ayat 8).
Meski awalnya perempuan
itu tidak memahami arti air
hidup yang Yesus
tawarkan kepadanya (ayat
10), dengan sabar Tuhan
Yesus membimbingnya
tiba pada pengertian
seperti yang Tuhan
maksudkan (ayat 14).
Renungkan: Tuhan Yesus
memperlakukan
perempuan dengan baik
dan mengangkat derajat
dan martabatnya. Ia tidak
memberikan perlakuan
yang berbeda antara laki-
laki dan perempuan.
Mengapa kita masih
memperlakukan
perempuan seperti sebuah
benda?
Yesus memperbarui hidup
(Yohanes 4:15-26)
Perjumpaan dan
pembicaraan dengan
Tuhan Yesus telah
mengubah hidup
perempuan Samaria itu
secara radikal. Hidupnya
tidak seperti hari-hari
sebelumnya. Sesuatu telah
terjadi dalam hidupnya
sebagai akibat perjumpaan
dan pembicaraannya
dengan Tuhan Yesus.
Semuanya karena inisiatif
Tuhan Yesus. Tuhan
Yesus yang mencarinya.
Tuhan Yesus juga yang
membimbingnya dalam
percakapan, sampai ia
mengenal siapa Yesus dan
terbuka pada pembaruan
dari Yesus atas hidupnya.
Pada awal pembicaraan itu
ia tidak mengenal dengan
siapa ia sedang berbicara.
Ia hanya tahu bahwa ia
sedang berbicara dengan
seorang Yahudi (ayat 9).
Kemudian ia menyapa
Tuhan Yesus dengan
sebutan tuan (ayat 11).
Sementara pembicaraan
berlangsung, ia menyadari
bahwa Yesus lebih
daripada yang disapanya.
Namun, untuknya tetap
Yesus lebih rendah
daripada leluhurnya Yakub
(ayat 12). Ketika Yesus
mengungkapkan semua
perbuatannya, ia
menyadari bahwa Yesus
adalah seorang nabi (ayat
19). Tetapi, Tuhan Yesus
tidak berhenti di situ. Ia
membimbing pengenalan
perempuan Samaria
sampai ke puncaknya,
yakni bahwa Ia adalah
Mesias (ayat 25-26).
Pengenalan bahwa Yesus
adalah Mesias merupakan
puncak karena hal ini
sesuai dengan tujuan
penulisan Injil Yohanes,
"...tetapi semua yang
tercantum di sini telah
dicatat, supaya kamu
percaya bahwa Yesuslah
Mesias, Anak Allah, dan
supaya kamu oleh
imanmu memperoleh
hidup dalam nama-
Nya" (ayat 20:31).
Pengenalan perempuan
Samaria terhadap Yesus
sejalan dengan maksud
penulisan Injil. Inilah saat
terindah dalam hidupnya,
saat ketika ia percaya
kepada Yesus, saat ia
bertemu dan mengenal
Mesias. Ia tidak pernah
membayangkan
sebelumnya bahwa
perjalanannya mengambil
air ke sumur merupakan
perjalanan yang
mengubah hidupnya
secara radikal.
Renungkan: Tuhan Yesus
mengenal manusia secara
utuh dan lengkap. Tidak
ada yang tersembunyi
baginya. Seluruh hidup
kita terbuka bagi-Nya. Di
hadapan Tuhan Yesus
tidak perlu ada yang
disembunyikan. Tuhan
Yesus berbicara kepada
kita untuk memenuhi
kebutuhan dan keperluan
kita yang terdalam karena
Ia mengenal kita
seutuhnya. Terbukakah
kita pada inisiatif-Nya
memasuki hidup kita dan
menyambut Dia sebagai
kepuasan sejati?
Sang Mesias
memperkenalkan diri
(Yohanes 4:16-26)
Sang Mesias
memperkenalkan diri Bila
kita mengikuti alur
percakapan Yesus dengan
perempuan Samaria,
mungkin hati kita turut
berdebar menunggu
bagaimana reaksi Yesus
terhadap kerinduan
perempuan Samaria itu.
Mungkinkah keinginan
perempuan Samaria ini ---
yang menginginkan air
yang tidak
menghauskannya lagi dan
yang tidak
mengharuskannya
menimba lagi ---
terwujud?
Kuasa Yesus dinyatakan.
Yesus tidak langsung
menjawab keingintahuan
si wanita tadi. Mula-mula
Yesus menunjukkan
kemahatahuan-Nya.
Pengetahuan-Nya
melampaui pikiran dan
perkiraan manusia. Tanpa
mendapat penjelasan
sebelumnya, Yesus tahu
dengan tepat, siapa dan
bagaimana kehidupan
perempuan Samaria itu
(ayat 16-18), ini
menunjukkan bahwa
sesuatu yang agung
(kuasa Yesus) tidak selalu
bisa dicerna begitu saja.
Meskipun demikian,
dengan penuh simpati,
Yesus membimbingnya
sampai menemukan
kepuasan sejati dan
mengalami kehidupan
yang diperbarui. Tanpa
sedikitpun keraguan,
perempuan Samaria itu
mengungkapkan
pengakuan pribadi bahwa
Yesus adalah Nabi (ayat
19).
Ibadah yang benar
diperkenalkan. Langkah
penting berikutnya yang
diambil Yesus adalah
memberi pengertian yang
benar tentang ibadah.
Ibadah yang sejati dan
benar tidak harus
dilakukan di Yerusalem
(ayat 21), tetapi dimulai
dengan pemahaman yang
benar tentang objek yang
disembah. Perkataan
Yesus ini juga meluruskan
pandangan orang Yahudi
yang memahami bahwa
Allah hanya hadir di
Yerusalem. Allah yang
disembah bukanlah Allah
yang sulit dijangkau,
melainkan Allah yang
hadir, yang persis berdiri
di hadapan perempuan
Samaria dan sedang
bercakap-cakap. Kita dapat
membayangkan betapa
bahagianya wanita ini di
depan Sang Mesias.
Renungkan: Yesus Tuhan
yang kita sembah, begitu
nyata kehadirannya
bersama-sama dengan
kita, tanpa ada batasan
ruang dan waktu. Karena
itu jadikanlah ibadah kita
kepada-Nya bukan hanya
ketika di gereja pada tiap
hari Minggu.
Doa: Ya, Tuhan Yesus,
biarlah kehadiran-Mu
senantiasa membawa
sukacita ibadah sejati
dalam kehidupan kami.
"Makanan-Ku ialah
melakukan kehendak
Bapa." (Yohanes 4:27-42)
"Makanan-Ku ialah
melakukan kehendak
Bapa." Pada episode
kedua, pasal 4 ini
menjelaskan saat para
murid Yesus kembali dan
mengajak Yesus makan
(ayat 31). Tetapi
pandangan para murid
tentang makanan berbeda
dengan pandangan Yesus.
Bagi Yesus, selain bersifat
jasmani, makanan itu
adalah melakukan
kehendak Allah,
memenangkan jiwa yang
terhilang. Para murid
diutus bukan untuk
memetik apa yang ada di
bumi ini saja tetapi
"memetik jiwa."
Satu untuk semua.
Pertemuan perempuan
Samaria dengan Sang
Mesias membawa sukacita
besar baginya. Ia bagaikan
sebuah dinamit yang
meletus di dalam
sanubari, letupan bahagia
yang mendorong kepada
suatu tindakan baru. "Kini
aku telah puas dan aku
ingin agar orang lain pun
mengalami apa yang telah
aku alami." Tindakan baru
yang dilakukan
perempuan Samaria ini
disebut penginjilan.
Spurgeon, seorang
pengkhotbah terkenal dari
Inggris, pernah
menyebutkan bahwa
penginjilan itu bagaikan
sebuah aksi seorang
pengemis, yang pergi
memberitahukan teman-
teman seprofesinya, di
mana untuk pertama
kalinya ia menemukan
roti. Wanita ini, walaupun
cuma satu orang,
akhirnya membawa orang
sekampungnya untuk
menemui Yesus.
Renungkan: Saudara, yang
cuma satu orang
sebenarnya dapat berbuat
banyak untuk banyak
orang. Mengapa tidak?
Menyaksikan Yesus
(Yohanes 4:27-42)
Perempuan Samaria yang
telah bertemu dan
mengenal Mesias segera
menyaksikan imannya. Ia
tidak lagi merasa tidak
berharga dan tidak berarti
di dalam masyarakat. Ia
tidak malu dan takut lagi
berjumpa orang banyak.
Ia tidak merasa lagi perlu
menghindari mereka.
Perjumpaan dengan
Mesias telah mengubah
hidupnya. Perempuan itu
sekarang telah menjadi
manusia seutuhnya. Ia
merasa bahwa ia harus
menyampaikan kepada
masyarakat tempat ia
berada bahwa ia telah
mengenal Mesias.
Imannya kepada Yesus
mendorongnya untuk
bersaksi tentang Yesus
(ayat 29).
Kesaksian perempuan
Samaria ini efektif sekali,
sehingga banyak warga
kota tertarik oleh
perkataannya. Bahkan
sesudah mendengar
kesaksian tersebut mereka
ingin melihat dan bertemu
dengan Tuhan Yesus (ayat
30). Hal yang luar biasa
lagi ialah kesaksian
perempuan Samaria itu
membawa banyakarga
Samaria menjadi percaya
kepada Tuhan Yesus (ayat
39). Mereka bahkan
mendesak Tuhan Yesus
untuk tinggal bersama
mereka karena mereka
ingin mengenal Yesus
lebih dalam lagi. Selama
dua hari Tuhan Yesus
tinggal bersama mereka
dan mengajar mereka
(ayat 40). Banyak lagi
orang yang menjadi
percaya dan diperdalam
imannya (ayat 41). Ucapan
yang luar biasa muncul
dari mulut warga Samaria
sebagai akibat pengenalan
mereka yang semakin
dalam terhadap Tuhan
Yesus. Mereka mengenal
Yesus sebagai Juruselamat
dunia (ayat 42).
Yesus adalah Juruselamat,
bukannya guru selamat. Ia
bukan mengajarkan
bagaimana supaya
selamat. Ia sendirilah
keselamatan itu. Warga
Samaria tahu bahwa
keselamatan tidak hanya
berlaku bagi warga Yahudi
atau Samaria saja,
melainkan bagi semua
suku bangsa di dunia.
Pernyataan ini benar-
benar merupakan
pengakuan iman yang
mengandung makna
teologis yang luar biasa.
Mengapa? Karena murid-
murid pun belum sampai
pada pengenalan sedalam
itu. Mereka belum
mengenal bahwa Yesus
adalah Juruselamat dunia.
Dalam ayat 32-38, Yesus
menjelaskan kepada
murid-murid bahwa
merupakan kehendak
Allah agar keselamatan
disampaikan di luar Israel.
Lalu Tuhan Yesus
mengajar dan mendorong
mereka untuk terlibat
dalam misi kepada seluruh
suku bangsa (ayat 35-38).
Renungkan: Perjumpaan
sejati dengan Yesus tidak
bisa tidak segera
menampakkan diri dalam
bentuk kesaksian hidup
bagi-Nya.
Sumber : http://
sabda.org/
Untuk lebih jelas.. ^__^ :
http://
www.sarapanpagi.org/
yesus-dan-perempuan-
samaria-vt465.html#p925

--
BLESSING FAMILY CENTRE SURABAYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar